Sinopsis “KING SPEECH”; Sebuah Tinjauan Psikopatologi

the king's speechJika ada pertanyaan

“bagaimana mungkin orang gagap bisa jadi pemimpin?”

Film ini akan menjawabnya…

The King’s Speech bercerita tentang seorang raja yang mempunyai kesulitan berbicara di depan publik. Rakyat Inggris menginginkan dan membutuhkan seorang raja yang mempunyai kewibawaan, kepandaian, dan paling tidak pintar berbicara. Raja George VI (Colin Firth) sudah yakin dirinya tidak layak dan tidak akan menjadi raja sejak kecil. Adegan pembukaan film ini memperlihatkan bagaimana canggungnya dia berpidato di depan rakyat banyak di stadium. Semua menunggunya merangkai kalimatnya di dalam keheningan.

Elizabeth (Helena Bonham Carter), menunjukkan kesabaran dan supportnya kepada suaminya itu dengan mencari terapis baru setelah mencoba terapis rekomendasi kerajaan yang tidak membawa hasil. Setelah usahanya sendiri ke organisasi terapis Inggris, dia pergi bertemu Lionel, seorang aktor tua yang gagal yang akhirnya membuka praktek terapi bicara. Dari ruangan terapi itu mulailah hubungan mereka antara seorang calon raja yang keras kepala dan kaku bergaul dengan terapisnya yang luwes tapi berprinsip. Diselingi dengan cara penyembuhannya yang dianggap aneh dan baru, mereka pun saling bertukar pikiran dan perasaan.

Raja George VI yang kesehariannya disapa Bertie menghadapi masalah baru setelah ayahnya yang sering menekannya meninggal dunia. Edward yang lebih tua diangkat menjadi raja. Bertie berusaha mensupportnya agar Edward tidak jadi menikahi perempuan pilhannya yang sudah tiga kali bercerai. Selain Bertie takut nama kerajaan tercemar dan negara terbelengkalai, Ia pun merasa ketakutan jika kakaknya ini menyerahkan jabatan itu ke dia. Apa jadinya seorang yang gagap menjadi pemimpin kerajaan? Namun hal yang ditakuti pun terjadi tatkala Edward lebih memilih perempuan itu. Bertie pun mengambil alih kerajaan dan hubungannya dengan Lionel bukannya membaik tetepi malah retak karena Lionel dianggap terlalu mendesaknya untuk bisa mengalahkan kegagapannya itu agar bisa menjadi raja yang disegani.

Singkat cerita, Hitler pun menyebarkan berita untuk menyerang Inggris. Di saat susah ini Bertie akhirnya sadar dan meminta maaf kepada Lionel yang tidak memberi tahu istri dan keluarganya bahwa pasien yang ditanganinya adalah raja Inggris. Seperti yang disampaikan salah satu perdana menterinya bahwa “His greatest test is yet to come”. Bertie pun sadar bahwa rakyatnya bergantung dan mencari sosok pemimpin padanya. Dengan bantuan Lionel Logue dan istrinya, Bertie pun berusaha untuk memberikan pidato pertamanya sebagai pemimpin yang akan disiarkan ke seluruh rakyat Inggris dan dunia.

 

TINJAUAN PSIKOPATOLOGI

Perspektif psikologi khususnya tinjauan tentang patologi sangat kental dalam film ini. Ketidakmampuan berbicara di depan umum atau yang biasa diistilahkan gagap menjadi titik poin dan klimaks konflik bagi Bertie. Walaupun ia menyatakan bahwa kegagapannya tidak diperoleh sejak kecil, ia sendiri juga tidak dapat mendeskripsikan penyebabnya. Terapis bicaranya (Lionel Logue), terus menggali dari cerita-cerita Bertie tentang masa kecilnya yang penuh tekanan dari sang ayah (Raja George V). Berulang kali Logue mencoba menggali sejarah masa lalu Bertie untuk meyakinkan dirinya bahwa terapinya akan mampu menyembuhkan Bertie dari kegaapannya. Akhirnya, sesi demi sesi dilalui Bertie dan Logue untuk dalam upaya mengatasi kegagapan Bertie. Berbagai macam metode diterapkan, yang unik adalah ketika Logue menyatakan bahwa ia tetap teguh dengan prinsipnya dimana proses terapi hanya bisa dilakukan di rumah Logue dan dengan caranya sendiri. Beberapa teknik yang  dilakukan  Logue adalah, Bertie diminta untuk membaca naskah tulisan dengan disertai iringan musik yang mengalun keras di headphone yang ia kenakan. Walaupun pada awalnya Bertie dan istrinya Elizabeth tidak mempercayai metode Logue, ternyata terbukti berhasil setelah mendengarkan piringan rekaman yang didengarkan sendiri oleh Bertie ditengah keputusasaannya. Menurut analisa saya, dari sinilah Logue menemukan sebuah petunjuk bahwa gangguan berbicara Bertie tidak disebabkan murni oleh otak namun juga pengaruh lingkungan. Ketakutan, rasa tidak percaya diri, dan malu menghantu Bertie sehingga satu patah kata yang sempurna pun sulit ia ucapkan. Dengan adanya headphone bersamaan dengan suara musik yang dikenakan Bertie tidak akan fokus dengan suaranya karena salah satu faktor munculnya perasaan-perasaan buruk dan ketakutan itu adalah karena Bertie mendengar suaranya sendiri yang tidak sempurna (gagap).

Hal lainnya yang juga menarik bagi saya adalah selain pendekatan Logue lebih menyerupai seorang sahabat dibanding terapis, ternyata Logue tetap menggunakan metode konvensional seperti latihan olah tubuh yang membantu memlihkan otot-otot Bertie agar lebih rileks. Terapi wicara seperti mengeja huruf vokal yang berdurasi lama juga ia terapkan. Faktor lingkungan lainnya yang juga sangat kuat adalah klimaks dari film ini dimana pada saat Bertie akan on-air di radio yang disiarkan ke seluruh Inggris bahkan dunia internasional terkait perang yang diusung Hitler, Logue tetap sederhana dengan metodanya. Ia tidak memberikan tekanan kepada Bertie bahwa ia harus mampu melakukan pidato on-air tersebut melainkan ia hanya menstimulasi Bertie dengan ucapan yang memotivasi seperti layaknya proses latihan yang biasa mereka lakukan. Tidak hanya itu, Logue juga men-setting ruangan untuk on-air sama persis dengan rumahnya tempat mereka biasa latihan. Akhir yang didambakan pun berhasil dicapai Bertie, ia mampu menyelesaikan pidatonya dengan baik, dan didengar secara khusyu’ serta menyentuh oleh seluruh masyarakat dunia karena “jeda” dalam setiap kalimatnya memiliki kekuatan tersendiri dibanding pidato-pidato raja atau presiden pada umumnya.

DINAMIKA GANGGUAN BERDASARKAN DSM IV-TR

307.0 GAGAP

Kriteria Diagnostik:

  1. Gangguan pada kefasihan normal dan pola waktu berbicara (tidak sesuai dengan umur individu), ditandai oleh kejadian yang seringkali dari satu atau lebih berikut ini:
    1. Pengulangan bunyi atau suku kata à terjadi ketika Bertie mengucapkan kata-kata yang sulit, seperti pada saat memulai pidato, bahkan ucapan salam saja merupakan awal yang berat baginya.
    2. Perpanjangan bunyi à hal ini kerap terjadi, gangguannya muncul ketika Bertie merasa sulit dalam mengucapkan satu kata saja, ia bahkan akan melafalkannya dengan nada yang sangat panjang dan berlebihan. Terapisnya mengajak ia bernyanyi (melafalkan kata tersebut menjadi sebuah nyanyian) dengan tujuan untuk menyelesaikan ucapan Bertie.
    3. Penyisipan à Tidak banyak terjadi dalam kasus Bertie.
    4. Kata-kata terputus (misalnya jeda dalam kata) à  Hal ini kerap terjadi pada saat Bertie berbicara, jeda yang terlalu lama karena kesulitan mengawali kata baru untuk dilafalkan.
    5. Hambatan yang dapat terdengar /diam (jeda dalam bicara yang terisi)
    6. Pemakaian kata-kata yang terlampau banyak dan tidak perlu (pergantian kata untuk menghindari kata yang menyulitkan)
    7. Kata-kata diproduksi dengan ketegangan fisik yang berlebihan  à Bertie kerap melakukannya ketika berbicara dengan orang lain. Ketegangan fisiknya dapat dilihat dari ekspresi yang sangat kaku (tegang), bibir bergetar, mata menghadap ke bawah dan tidak melihat lawan bicara, bahkan berkeringat di dahi. Hal ini menyulitkan ia untuk bisa tenang, bahkan dalam setiap kesempatan pidato ia berkata bahwa seolah ada duri menyerupai jarum-jarum yang keluar dari mikrofon dan masuk ke mulutnya sehingga ia tidak bisa mengeluarkan suara.
    8. Pengulangan seluruh kata dengan satu suku kata (misalnya, ku-ku-ku-ku lihat dia)
    9. Gangguan dalam kefasihan mengganggu pencapaian akademik atau pekerjaan atau komunikasi sosial.
    10. Apabila terdapat defisit motorik bicara atau sensorik, kesulitan berbahasa adalah secara jelas melebihi dari yang biasanya berhubungan dengan masalah ini.

Berbeda dengan DSM IV-TR, dalam PPDGJ gagap dimasukkan ke dalam “Gangguan Perilaku dan Emosional Lainnya dengan Onset Biasanya pada Kanak dan Remaja (F 9850)”. Jika dikaitkan dengan masa lalu Bertie pada film ini, memang ada trauma masa kecil yang ia rasakan dari perlakuan pengasuhnya yang memasukkan makanan dengan jumlah banyak dan paksaan agar Bertie terlihat buruk di mata keluarga kerajaan. Jika Bertie tidak mengikuti kemauan pengasuhnya, ia akan melakukan kekerasan yang menyiksa bertie karena harus merasa kesakitan tiap kali menelan makanan yang dipaksakan. Pengasuh yang lebih menyayangi kakak Bertie mengharapkan Edward lah yang kelak akan menjadi raja Inggris selanjutnya. Akibatnya, Bertie merasa inferior dan tidak percaya diri jika berhadapan dengan umum.